Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 21, '08 9:05 PM
for everyone

Kepada DST dari MTH....

Kawan,
Kemarin aku belajar banyak pada orang yang salah aku persepsikan, memang setiap persepsi bisa jadi bertolak belakang dengan kenyataam sesungguhnya. Padahal kita sudah belajar tentang hikmah, ah kupikir itu soal lain.

Kawan,
Dalam keseharian, aku sering terjebak dalam dilema dari setiap aturan yang kita buat sendiri. Sama halnya terhadap setiap kegiatan, entah itu sebagai pengisi waktu atau sebagai profesi. Kita sering kali tidak bisa membedakan posisi kita sebagai A saat waktu A dengan posisi kita sebagai B di saat waktu B. Bahkan tak jarang kita selalu menyamaratakannya.

Kawan,
Ini ku buktikan dengan kejadian pagi ini. Ternyata yang sangat berpengaruh adalah persepsi kita. Kita selalu menganggap manusia lekat dengan bajunya. Tak pernah mau mengerti bahwa manusi sebenarnya adalah manusia tanpa embel-embel macam apapun
.
Kawan,
Ketika kesadaran muncul, seringkali kita menyesali setiap hal yang telah kita lakukan. Kita menyesal lantaran tak semua hal berada dalam kendali tangan atau pemikiran kita.

Kawan,
Kebersamaan tanpa kesadaran mungkin berujung pada penyesalan. Seperti itu pula, lantaran kita tak pernah tahu bahwa kebersamaan bukanlah alasan sebenarnya yang kita tentukan di awal pertemuan perjalanan kita.

Kawan,
Pada beberapa situasi, kesadaran tak selalu dibutuhkan secara penuh. Namun ketika itu dibutuhkan, alah raib entah kemana. Apakah itu Cuma sekedar ungkapan ketidakmampuan?

Kawan,
Setiap kali kita temukan permasalahan yang harus dihadapi. Detik awalnya kita sadar, namun bisa jadi detik berikutnya kita tak tahu lagi apa yang harus dilakukan dengan permasalahan itu. Walhasil, yang ada hanya ungkapan kebingungan, lantaran miskinnya diri kita dari pengetahuan dan lemahnya gerak reflek sosial kita.

Kawan,
Pada beberapa fase mungkin ini bisa dilihat sebagai ungkapan ketaksampaian. Namun kalau demikian adanya, berarti kita telah terjebak dalam belantara penundaan. Meskipun muncul dalih prioritas. Tapi waktu kita telah terbuang dengan percuma. Pernahkah upaya meminimalisir dilakukan? Namun kita harus berhati-hati dari kutub penyederhanaan segala permasalahan...

Apa arti dari wujud bayang diri?
Ketika tak tercerapi dia akan mati...

Dibutuhkan ketulusan dalam mencerap setiap tanda-tanda dalam segala permasalahan


Blog EntryFeb 21, '08 8:32 PM
for everyone

Tengah September Tahun Lalu

Ramadhan Penuh Hikmah

 

Jelang ramadhan 1428 H ku lahir dengan berat 3,4 kg panjang 48cm di sebuah rumah bersalin daerah Percetakan Negara Jakarta. Tepatnya hari rabu.

 

Namaku Faz, sebuah akronim nama yang sudah dirancang ibuku sejak kali pertama hamil 2002 silam. Nama untuk bayi perempuan, dan baru terpakai untuk aku, anak ketiga.

 

Aku lahir kaki dulu, aku sungsang. Leherku kelilit tali pusat dan posisi tangan kananku melingkar di atas kepala. Mungkin itu sebabnya kepalaku tidak mau balik ke bawah (jalan lahir).

 

Saat mau lahir,aku tidak mau menunggu ayahku yang sedang tugas kerja ke Malang (padahal hanya 2 hari). Juga tidakmau menunggu pertolongan pak Dokter spesialis yang biasa tempat ortuku konsultasi.

 

Jadinya, demi keselamatanku karena tinggal kepala dan tangan kananku, bu bidan menarik tanganku. Tindakan itu diambil agar aku segera bisa bernafas dan sangat tidak mungkin ibuku dilarikan untuk operasi. Akhirnya aku mengalami patah tulang di lengan kanan atas. Di sisi lain diantara segala usaha perjuangan untuk kesembuhanku, orangtuaku senang sekali, karena aku perempuan.

 

Umur 3 jam aku sudah merasakan rongten. Umur sehari aku sudah merasakan sangkal putung. Badanku diperban menyatu dengan tangan kananku, agar tanganku tidak banyak gerak. Umur seminggu tangan kananku digips selama 2 minggu.

 

Ya Allah terimakasih atas segala pertolongan Mu melalui orangtuaku dan kakak-kakakku. Aku selalu diantar kontrol ke Rumah Sakit.

 

Alhamdulillah kata dokter bisa pulih seperti semula dalam 2 minggu. Subhanallah. Ortuku menanti saat-saat itu.Walau ayahku harus berusaha keras menyediakan  dana lumayan banyak setiap kamisnya untuk kontrol aku ke Dokter Djoko.

 

Kamis ketiga aku kontrol lagi. Tulang tanganku udah nyambung, udah kuat. Dan gipsku udah dilepas. Subhanallah,tanganku sudah sembuh. Senang sekali kedua orangtuaku. Sampai terharu.

 

Engkaulah ya Robby sebaik-baik penentu. Engkaulah sebaik-baik pengambil keputusan. Engkaulah pemberi sabar pada hamba-hamba yang sedang diuji. Inilah makna Ramadhan terdalam dalam keluarga kami. Semoga aku nanti bisa menjadi Bunga yang ceria, punya kedudukan dan selalu dalam petunjuk Nya selalu seperti doa ortuku dalam namaku.

Blog EntryFeb 21, '08 8:31 PM
for everyone

Tengah September Empat Tahun Lalu

Sang Traveler Julukanku

 

Tepatnya Minggu pukul  04.00 ku lahir. Di sebuah rumah bidan di daerah Kertajaya, Surabaya. Pinginnya ibuku sih melahirkan di tempat yang sama dengan kakakku, di Mojokerto. Tapi Allah berkehendak lain. Kesibukan ibuku dengan berbagai tugas kerja, walau sudah cuti tetap saja beraktifitas. Bahkan untuk beberapa keperluan walau udah 9 bulan usia kehamilan, tetap bepergian ke Surabaya. Kemana-mana naik bis juga motor.

 

Saat di kontrakan Surabaya itulah ibuku mulai mengalami pembukaan. Padahal semua perlengkapan sudah di rumah mbah Mojokerto. Setelah pergi ke pasar Pucang dengan kakak dan ayah sampai pukul 22.00 malam, dah mulai mules-mules. Sampai akhirnya diantar kakak Hauzan dan Ayah ke rumah Bu Bidan pukul 03.00 dini hari. Sampai depan rumah bu Bidan badan ibuku udah melorot sendiri. Baru di atas tempat tidur aku dah keluar didampingi oleh kakakku dan ayah. Subhanallah gumam ibu dan ayahku.

 

Aku lahir dengan berat 3,2 Kg dan panjang 50cm. Dengan baju ganti seadanya, bahkan dipinjami oleh Bu Bidan. Kacian deh i. Ternyata doyan travel ku belum berakhir. Umur sehari aku dan ibuku pulang kekontrakan naik becak. Lalu dilanjutkan dengan perjalanan naik mobil Bosnya Ayah, aku diantar ke Mojokerto oleh mbak heni, mbak ufi, om oni, kakak hauzan, ayah serta ibu. Bahkan masih sempat ke restoran di stasiun Mojokerto untuk makan. Padahal badan ibuku masih gemetar.

 

Tak Heran jika orangtuaku memberi nama Fs, inisial ku: Si traveler (si penunggang kuda-motor-) adiknya kakak yang inginnya kuat dan selalu dalam petunjuk Allah juga. Ternyata aku ke Surabaya hanya untuk numpang lahir.

Blog EntryFeb 21, '08 8:30 PM
for everyone

Awal April Lima Tahun Lalu

Satu Tanda Kesempurnaan Telah Tiba

 

Rabu pukul 02.15, dengan bola mata bercahaya kutatap wajah ibuku kali pertama. Ayah dan ibuku mengucapkan subhanallahwalhamdulillah atas kelahiranku. Ayah memperdengarkan adzan dan iqomah, serta bergumam, ”Kaulah satu tanda kesempurnaan.”

Kata ibuku -- dengan lihat aku di pangkuan ayahku-- menjadi pemupus segala rasa sakit ibuku. Nyaman sekali ku berada dalam pangkuan ibuku, sampai ku tertidur.

 

Hz ortuku biasa menyebut namaku. Ku terlahir dengan panjang 50cm dan berat 2,8 kg di sebuah rumah bersalin di brangkal, Mojokerto -daerah kelahiran ibuku-. Ku jadi cucu pertama dan cicit laki-laki pertama dari keluarga ayahku. Serta jadi cucu ke 9 dari keluarga ibuku.

 

Ku disambut sukacita dari seluruh keluarga. Ucapan selamat dan hadiah banyak banget dari seluruh keluarga. Atasan ibu dan ayah, teman kerja ibu dan ayah, kolega, serta seluruh tante-om, bude-bude dan pakde-pakde, serta mbah-mbah yang banyak sekali.

 

Kata ibu aku waktu di tempat lahiran aku bayi pendiam, jarang menangis. Apa karena aku satu-satunya bayi laki-laki diantara 3 bayi cewek lainnya. Jaim bo’. Eh ternyata waktu udah pulang ke rumah mbah, tangisku jadi kenceng sekali. Weleh-weleh.......

 

Nama asliku saking panjang dan dan susahnya dieja sampai-sampai akte kelahiranku sampai perlu dibetulkan 3x. Namun itulah wujud doa panjang kedua orang tuaku, pinginnya aku selalu menjadi Makhluk Allah yang selalu mendapat kebaikan dan hidayah dari Allah seperti salah seorang ulama besar islam.


Blog EntryOct 3, '07 11:53 PM
for everyone

(dari sebuah milis, so inspiring! -dst)

Karena Dia Manusia Biasa

by Ugik Madyo

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir :D manusiawi lah :P). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah.
Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan.
Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu
sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses
pernikahan seperti ini sudah lazim. Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu
hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih
suami.
Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri.
Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius.
Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi
kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal
pernikahannya.
Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses
pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin
tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan?
Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat
ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih
aslinya ).
Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali
dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa
kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya.
That's all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya
memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa
ngobrol –hanya- berdua. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi,
sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang
banyak hal.
Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin
saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya. Beberapa kali
Mamanya mengetok pintu, meminta kita tidur.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya
paham kondisinya saat ini.
"Lampunya dimatiin aja, biar dikira kita dah tidur."
"Iya.. ya." Dia mematikan lampu neon kamar dan menggantinya dengan
lampu kamar yang temaram. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik.
Suatu hal yang sudah lama sekali tidak kita lakukan. Kita berbicara banyak
hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat
jelas dalam keremangan kamar. Memunculkan aura cinta yang menerangi kamar
saat itu. Hingga akhirnya terlontar juga sebuah pertanyaan yang selama ini
saya pendam.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari
tidurnya sambil meraih HP dibawah bantalku. Berlahan dia membuka laci meja
riasnya.
Dengan bantuan nyala LCD HP dia mengais lembaran kertas didalamnya.
Perlahan dia menutup laci kembali lalu menyerahkan selembar amplop pada saya.
Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat
perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak
mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4,
saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat diatas
dideretan paling atas.

"Busyet dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil
menahan senyum. Sementara dia cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai
membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-
katanya. Begini isi surat itu.

*Kepada YTH*
*Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan
calon kakak buat adik-adik saya*

*Di tempat*

*Assalamu'alaikum Wr Wb*

*Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai. *
Saya, yang bernama …… menginginkan anda …… untuk menjadi istri saya.
Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya
pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan.
Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak. Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa
kelebihan.
Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi
kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya. Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak
tahu suratan jodoh saya. Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga
menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini
saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istiqaroh
berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu,
Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk
menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.*

Saya mohon sholat istiqaroh dulu sebelum memberi jawaban pada saya.
Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho
dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin *****

Wassalamu'alaikum Wr Wb


Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru
kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan
realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.
Surat cinta minimalis, saya menyebutnya :D. Saya menatap sahabat disamping
saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.
"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa." Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia
manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku
tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya
dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah
kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"
"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih
ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu
saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."

"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita belum
tidur. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar
nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup
mulut masing-masing. "Udah tidur. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin
Mama." Kita kembali rebahan. Tapi mata ini tidak bisa terpejam. Percakapan
kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.

"Gik…"
"Tidur. Dah malam." Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin
dia tidur, agar dia terlihat cantik besuk pagi. Kantuk saya hilang sudah,
kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.

Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia
sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala
kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah
tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang
tahu bagaimana dan berapa lama pernikahnnya kelak. Lalu menjadikan proses
menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'. Betapa
indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'.
Embel-embel predikat diri yang selama ini melekat ditanggalkan. Ketika
segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang
utama.
Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk
ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka
semua menjadi indah. Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-
NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang
mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan
Allah.
Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah
jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu,
bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari
ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa
bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. *Witing
tresno jalaran garwo(sigaraning nyowo), *kalau diterjemahkan secara bebas.
Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa). Cinta paling halal dan
suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha mengabungkannya agar menjadi cinta
yang luar biasa. Amin .


Blog EntryAug 30, '07 7:46 AM
for everyone
1.peluklah setiap pagi
2.ajak pergi ke kebun binatang atau taman bermain/hiburan
3.gantungkan karya seni atau penghargaan miliknya di dinding
4.ciptakan tradisi keluarga
5.bersabarlah
6.minta maaflah setelah marah
7.ajaklah berkemah atau hiking
8.mainkan petak umpet atau permainan olah raga
9.sediakan selalu band-aid/betadine atau p3k
10.kenalilah kekuatan-kekuatan mereka
11.berikan pujian
12.berikan dorongan
13.hargailah mereka
14.makanlah bersama
15.janganlah tergesa-gesa
16.hormatilah privasi mereka
17.dengarkanlah
18.janganlah mendisiplinkan dalam keadaan marah
19.bersikaplah konsisten
20.sering-seringlah mengucapkan "ayah/ibu sayang kamu"
21.biarkanlah ketika mereka berlaku konyol
22.terimalah ketidaksempurnaannya
23.berikanlah imbalan atas perilaku yang baik
24.jelaskanlah aturannya dengan jelas
25.perbanyak senyum/tertawa dengan mereka
26.ajaklah ke restoran kesukaannya
27.undanglah teman-temannya kerumah
28.belikanlah es krim
29.ajaklah berlibur
30.tahu kapan harus lembut dan kapan harus tegas
31.buatlah hari ulang tahunnya tak terlupakan
32.ajarkanlah tanggung jawab serta sikap hormat
33.mintalah pendapat mereka
34.jangan mempermalukan mereka
35.bantulah menyelesaikan tugas mereka
36.lindungilah mereka
37.ciptakan kesan atau kenangan
38.peganglah janji
39.katakanlah 'tidak' jika diperlukan
40.jangan membentak
41.bawakan oleh-oleh atau bingkisan
42.berikanlah teladan kebajikan
43.berdoa bersama
44.berdoalah bagi mereka
45.bicaralah dengan guru-guru mereka
46.katakan anda bangga kepadanya
47.ulurkanlah tangan kepadanya
48.menghitung bintang bersama-sama
49.ngobrol di saat-saat menjelang tidur
50.lepas kepergiannya dengan berkat

Blog EntryAug 30, '07 7:41 AM
for everyone

Oleh: Dewi Sad Tanti

Sebuah tabloid ekonomi terbitan Jakarta mengangkat judul besar di halaman judulnya ”Mengatasi Paceklik Akibat Piala Dunia”.  Hal ini disebabkan saat piala dunia berlangsung, para investor lebih tertarik bertaruh ketimbang belanja saham. Nah... Noh.... Jika dicocokkan dengan fenomena sekarang ini hal itu masuk akal, piala dunia bikin flu bursa saham.

Pembahasan tabloid tersebut berkisar bagaimana para investor juga bisa bertarung mati matian seperti pemain bola di lapangan tetapi dengan tepat bertaruh dimeja judi dan tetap jitu mencetak gol di bursa saham. Goalnya tetap kemenangan dan keuntungan. Sekian rekomendasi, taktik dan tip-tips jitu disuguhkan.

Piala dunia memang menjanjikan keuntungan ganda. Keuntungan kesenangan tim favorit menjadi pemenang, serta keuntungan secara material juga. Mulai dari warga masyarakat di desa-desa sampai para investor, tokoh, walikota, menteri dan kepala majelis perwakilan rakyat serta media massa sendiri.  Para warga desa berjudi dari taruhan uang dari paling kecil hingga bernilai jutaan.

Sedang media-media massa baik  web site, televisi, radio, surat kabar, tabloid atau majalah juga ingin menuai untung. Pemberitaan yang bertema piala dunia, sepakbola, di buat rubrik/program khusus. Kuis pun mengikuti di setiap program/rubrik itu. Hadiah menarik dan besar disuguhkan. Tak tanggung-tangung satu televisi swasta menggelar kuis sebulan sebelum piala dunia ini berlangsung.

Dari pendekatan kritis, televisi memang merupakan media komunikasi massa yang punya efek besar, sedangkan berbicara tentang komunikasi adalah suatu bisnis yang besar. Bukan hanya proses penyampaian informasi oleh komunikator kepada komunikan (khalayak) melalui media televisi yang dapat menimbulkan efek. Namun komunikasi sebagai layaknya setiap bisnis, motivasi dan kebutuhannya adalah untuk mendapatkan keuntungan, bukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Hal itu pernah disampaikan oleh ilmuwan komunikasi di tahun 97 an.

Setiap program acara dibuat semenarik mungkin dan unik dengan berbagai kemasan. Ada yang mengundang pelatih sepak bola nasional sebagai komentator ada juga yang menggelar nonton bareng. Mengundang jurubicara kepresidenan, ketua MPR, kepada daerah, selebritis sampai pengamat sepakbola. Agar bernilsi berita dan menarik.

Semua media massa juga bertujuan mendompleng event besar ini untuk meraup keuntungan. Tentunya ini sah-sah saja, walaupun dalam membuat program atau rubrik itu keluar biaya yang tidak sedikit, tetapi ilmu ekonomi paling dasar mengajarkan pengeluaran diusahakan sekecil mungkin agar masih ada kelebihan yang banyak.

Kalau dilihat lagi, keuntungan yang diraih bukan saja secara materi tetapi juga nama baik. Popularitas  tentunya. Hal ini juga menarik. Citra positif juga bisa dinilai sebagai keuntungan.  Seperti mengundang orang-orang terkenal tetapi yang bisa bicara soal bola. Atau bisa saja pencitraan atau pembentukan brand image corporate atau brand image product melalui iklan.

Coba kita lebih detil melihat lapangan bola pertandingan, kita bisa lihat sekian nama (tulisan berhuruf besar) produk atau jasa bertaraf internasional terpasang di sisi-sisi memutari lapangan. Sebut saja web site terkenal dunia, jasa penerbangan, produk teknologi informasi dan telekomunikasi, produk makanan mendunia ada di sana. Bisa kita lihat berapa angka iklan yang di dapat panitia penyelenggara. Iklan tersebut selalu terambil gambar oleh kameramen yang meliput tayangan pertandingan ini, bahkan dalam hitungan satu bulan. Kalau kita tahu angka nilai iklan di media massa cetak saja kita pasti akan melongo. Apalagi itu di televisi tentu akan lebih melongo.

Begitu juga perusahaan-perusahaan besar dalam negeri banyak yang berebut menjadi sponsorship dari kuis-kuis yang digelar di stasiun televisi di dalam negeri.  Kita bisa analisa juga bagaimana manajemen event peristiwa besar bertaraf dunia ini bisa terselenggara. Tentu hal ini tidak mudah. Penyelenggara tentunya dituntut secara  profesional mempersiapkan, menyelenggarakan sampai mengakhiri dan mengevaluasi event ini. Koordinasi seluruh panitia penyelenggara, rombongan kontingen, para penyedia makanan, akomodasi, tranportasi, penjualan tiket, dan juga media massa yang meliput bahkan dengan para penonton harus berjalan dengan baik.

Mengumpulkan jutaan orang dari berbagai  negara dengan latar belakang budaya, bahasa, politik, agama, ekonomi  yang berbeda tidaklah mudah. Banyak hal yang mungkin diluar prediksi panitia penyelenggara bisa terjadi. Terjadi komunikasi multikultural yang terjadi di Jerman.

Secara obyektif tentunya kita sadar bahwa ada hal-hal negatif yang akan muncul dari  berkumpulnya orang-orang dari seluruh dunia. Seperti informasi terakhir diprediksi ada perdagangan manusia ilegal di Jerman. Hal ini menjadi pembicaraan PBB karena Jerman notabene salah satu negara yang melegalkan prostitusi. Sampai-sampai PBB  memberikan seruan untuk para penonton untuk lebih waspada pada praktek ini. Belum lagi banyak yan menurunkan berita tentang kedekatan sex dan sepak bola dengan menulis se(x)pak bola. Wow....

Itulah sisi lain penyelenggaran Piala Dunia tahun ini. Soal hasilnya tentu para pengamat bola dan penggemar bola jauh lebih memahami. Dan bagaimana penyelenggaraan piala dunia ini berakhir. Mari kita simak bersama-sama...

(dst)


Blog EntryAug 30, '07 7:38 AM
for everyone

Oleh: Dewi Sad Tanti

Kata-kata smackdown sudah melekat dalam ingatan anak-anak kita bahkan menjadi satu ”kebanggaan” tersendiri. Istilah yang diambil dari satu tayangan televisi tersebut kerap digunakan untuk menggantikan kata ”menghajar” dan sejenisnya yang identik dengan kekerasan. Tak urung hasilnya bisa disaksikan: sekian anak di berbagai daerah di Indonesia harus mengalami luka. Mulai dari lecet, keseleo, patah tulang, hingga kematian. Dan orang tua serta para pengajar pun meradang.

Acara ber-setting pertandingan gulat bebas dengan tokoh perkasa itu sejatinya banyak diwarnai akting. Sekalipun sudah ada pemandu acara yang menyampaikan bahwa ini bukanlah peristiwa sungguhan, namun panduan selama satu menit itu seolah hilang di tengah rangkaian acara yang mencapai durasi dua jam.

Sebenarnya acara ini pernah hilang dari gelombang televisi beberapa saat, setelah ada protes dari beberapa kalangan atas kekerasan yang ditampilkan. Namun entah kenapa acara ini kembali mengudara dan menimbulkan kehebohan. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai lembaga yang mengawasi isi tayangan televisi yaitu KPI, sejak awal penayangan telah memberikan himbauan dan peringatan agar tayangan itu dipindah jam tayang dan dihentikan juga tidak didengar.

Sekolah-sekolah juga menyerukan larangan menonton dan menirukan adegan dalam acara smackdown. Begitu juga artikel dan surat pembaca di media massa yang keberatan tayangan itu. Masih ditambah pemberitaan di televisi tentang efek negatif smackdown. Namun sepertinya menjadi angin lalu. Toh acara smackdown di televisi tetap tayang sampai sekarang.

Televisi dan Budaya Kekerasan
Televisi merupakan media pandang dengar yang membuat setiap sajiannya menarik untuk dinikmati. Kemasan pesannya mampu sedemikiuan rupa mengena pada otak, ingatan, dan perasaan. Tak berlebihan jika Chen (1994) menyatakan bahwa televisi berpotensi tidak saja untuk menyampaikan informasi tetapi juga membentuk perilaku seseorang. Lantaran televisi secara "diam-diam" mengajari, memberi contoh model-model perilaku tertentu dan selanjutnya (sengaja ataupun tidak) mengajak anggota keluarga kita untuk menirunya.

Zhao Yuhui, melaporkan bahwa tahun 1986 ada seri TV berjudul Garrison’s Gorillas di salah satu TV China. Beberapa waktu setelah tayangan tersebut,  banyak bermunculan kelompok-kelompok Garrison’s Gorillas di sekolah setingkat SMP dan SD. Mereka melempar batu-batu ke jendela sekolah dan merusak bangku. Banyak guru dan orangtua protes sehingga tayangan di China Central TV tersebut kemudian dihentikan (Unesco, 1994).

Walhasil tayangan televisi di tengah masyarakat kita yang belum sepenuhnya melek media saat ini, bisa jadi dianggap sebagai sebuah realitas. Apa yang dapat ditonton pada akhirnya dianggap sebagai kenyataan. Apalagi bagi anak-anak kecil yang belum bisa membedakan mana yang akting mana yang betulan. Lantas apa yang mesti dilakukan?

Men-“Smackdown” Smackdown
Memang tidak mudah menghentikan tayangan ’yang katanya’ telah menduduki rating tinggi dan memperoleh pendapatan iklan besar. Bagaimanapun, pihak pengelola televisi akan mempertahankan acara ini karena punya kepentingan dengan iklan, dengan mengesampingkan akibatnya bagi khalayak (Cross, 1983).

Bahkan setingkat lembaga KPI yang diberi mandat undang-undang pun mengawasi konten penyiaran dan Departemen Komunikasi dan Informasi saja menyatakan tidak serta merta bisa mencabut ijin siaran acara itu, harus melalui prosedur.  Sebab selama ini di Indonesia lembaga penyiaran hanyalah dibatasi dengan kode etik, yang tentunya tidak bisa dipermasalahkan secara hukum untuk mendapatkan sanksi.

Padahal sebagai kegiatan yang memanfaatkan ruang publik, tentunya menjadi kewajiban pengelola televisi dan pemerintah serta lembaga yang diberi mandat undang-undang untuk memperhatikan kepentingan publik.  Dalam undang-undang kewenangan KPI cukup besar untuk melindungi publik dari berbagai dampak tayangan yang ”mengganggu” masyarakat.

Dalam perspektif komunikasi, peran khalayak pemirsa sangat besar untuk menentukan dan memilih sebuah tayangan. Bahkan secara aktif, kita sendiri bisa memilih dan menghentikan tayangan yang akan kita tonton.

Jika isi tayangan memang tidak memberi manfaat bagi kita, bisa bisa langsung menekan tombol pindah ke stasiun  lain. Tapi repotnya jika stasiun lain malah menyajikan tayangan yang kurang bermutu juga. Mungkin mematikannya bisa jadi satu pilihan. Apalagi taruhannya adalah perilaku anak-anak.

Pilihan alternatif tayangan seperti film compact disk yang mendidik saat ini banyak tersedia. Ada CD dokumenter dan ilmu pengetahuan produksi indonesia dalam bentuk animasi yang cukup menarik dan beragam judul. Bahkan ada penggolongan peruntukan umur sesuai dengan kapasitas pembelajaran anak.

Maka kenapa tidak kita mulai sekarang, dari tangan kita sendiri, di rumah kita sendiri dengan anak-anak kita? Dan demi masa depan anak-anak kita.

(dst)


Blog EntryApr 22, '07 1:29 AM
for everyone

 

Disampaikan sebagai bahan bacaan / diskusi dalam Pra LKMM  

Stikosa-AWS, Sabtu, 17 September 2005

 

Kegiatan komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan kita sehari-hari, mulai antar teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Kalau lebih teliti lagi banyak kegagalan dari komunikasi yang kita lakukan. Bisa jadi bentuknya karena tujuan yang kita inginkan belum tercapai. Bukan tujuan komunikasi secara egois loh. Tetapi tujuan komunikasi yang lebih pada , tidak adanya saling kesepahaman, belum bertambahnya informasi, serta ada usaha perubahan tingkah laku pada orang/teman kita itu. Yang terkadang tidak hanya diartikan persetujuan.

 

Komunikasi

Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan.

 

Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan/ ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut. Elemen-elemen yang terdapat dalam komunikasi adalah:

Komunikator        : orang yang menyampaikan pesan

Pesan                   : ide atau informasi yang disampaikan

Media                   : sarana komunikasi

Komunikan           : audience, pihak  yang menerima pesan

Umpan Balik        : respon dari komunikan terhadap pesan yang diterimanya

 

Dalam kehidupan nyata mungkin ada yang menyampaikan pesan/ ide; ada yang menerima atau mendengarkan pesan; ada pesan itu sendiri; ada media dan tentu ada respon berupa tanggapan terhadap pesan.

 

Secara ideal, tujuan komunikasi bisa menghasilkan kesepakatan-kesepakatan bersama terhadap ide atau pesan yang disampaikan.

 

Fungsi : Komunikasi

·        Membangun Konsep Diri (Establishing Self-Concept)

·        Eksistensi Diri (Self Existence)

·        Kelangsungan Hidup (Live Continuity)

·        Memperoleh Kebahagiaan (Obtaining Happiness)

·        Terhindar dari Tekanan dan Ketegangan (Free from Pressure and Stress)

William I. Gorden, Communication : Personal and Public,1978

 

Persepsi : Inti Komunikasi

 

Kesan adalah nuansa rasa manusia kepada obyek tertentu; obyek itu bisa barang bisa orang. Kita terkesan, karena ada sesuatu yang menarik dari obyek tersebut. Kita bisa terkesan kepada orang karena bermacam-macam; bisa karena wajah cantiknya, tampan, berkumis; bisa karena kata-katanya, karena janjinya, dan sebagainya.

 

Membuat kesan yang baik, berarti kita harus berbuat dan bersikap tertentu yang membuat agar orang lain tertarik.

 


 

 

Persepsi didefinikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi Indrawi. Jika persepsi kita tidak akurat kita tidak munglkin bisa berkomunikasi secara efektif.

Rudolp F.Verdeber, Communicate, 1978

 

 

 

Proses mencapai kesepakatan (Sharing of meaning), lazimnya berlangsung secara bertahap. Karena itu, lebih awal kita perlu memperhatikan  5 (lima) sasaran pokok dalam proses komunikasi, yaitu:

  1. Membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka)
  2. Membuat pendengar memahami apa yang mereka dengar atau lihat
  3. Membuat pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar)
  4. Membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima
  5. Memperoleh umpan balik dari pendengar

 

Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan menghasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya. Karena, salah satu prinsip dalam berkomunikasi, yakni terdapatnya kesulitan-kesulitan pokok dalam mencapai tujuan. Berikut matrik tujuan dan kesulitan dalam proses komunikasi.

 

Tujuan

Kesulitan

MENDENGAR

-       Orang sulit memusatkan perhatian baik pada kata yang tertulis maupun terucap untuk waktu yang lama

-       Orang kurang memiliki perhatian pada apa yang bagi mereka tampak kurang penting

MEMAHAMI

-       Orang memiliki asumsi berdasarkan pengalaman masa lalunya

-       Orang sering tidak memahami jenis bahasa yang dipakai pembicara

-       Orang lebih mudah salah mengerti saat mereka mendengar tanpa melihat

-       Orang sering sudah menarik kesimpulan padahal kita belum selesai bicara.

MENYETUJUI

-       Orang sering merasa curiga terhadap orang lain yang sedang sedang membujuk mereka

-       Orang tidak suka jika dibuktikan bersalah

BERTINDAK

-       Tidak mudah bagi banyak orang untuk mengubah kebiasaan mereka

-       Orang merasa takut akan akibat dari pengambilan tindakan yang keliru

-       Banyak orang tidak suka mengambil keputusan

UMPAN BALIK

-       Beberapa orang sering dengan sengaja menyembunyikan reaksi dan apa yang sesungguhnya mereka pikirkan

-       Penampilan dapat bersifat memperdaya –anggukan kepala, mungkin tidak selalu tanda setuju dan mengerti, karena bisa digunakan untuk menutupi ketidak tahuan atau keragu-raguan.

 

Jika menyimak matrik di atas, sebetulnya kesulitan itu biasa dialami dialami oleh penyampai ide maupun penerimanya. Persoalannya bagaimana kita mengatasi kesulitan itu.

 

Komunikasi Efektif

Joseph de Vito, pakar komunikasi menyebut ada 5 kualitas umum yang dipertimbangkan untuk efektifitas sebuah komunikasi. Kualitas ini antara lain:

 

Kualitas Komunikasi

Deskripsi

Openess

Adanya keterbukaan

Supportiveness

Saling mendukung

Positiviness

Bersikap positif

Emphaty

Memahami perasaan orang lain

Equality

Kesetaraan

 

Namun demikian, yang paling mendasar dalam sebuah kegiatan komunikasi adalah adanya rasa saling percaya. Kalau sudah percaya, biasanya apapun yang dikatakan pastilah diterima! Satu hal lagi, efisiensi. Komunikasi yang efisien adalah komunikasi yang tidak membutuhkan upaya besar agar mencapai tujuannya.

 

Kualitas komunikator

Partisipasi merupakan modal dasar untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif. Karenanya  dibutuhkan kemampuan komunikasi efektif. Kemampuan ini meliputi kemampuan untuk berbagi ide, mengkritik dari semua aspek, mendorong dan merangsang imajinasi, menolak buah pikiran yang kurang tepat, dan mengenal sejak dini solusi yang mungkin bisa diambil.

 

Kualitas komunikator efektif

Menilai Orang

Tahu mana yang penting dan menghargai kontribusi orang lain

Mendengarkan secara Aktif

Berusaha keras memahami keinginan dan masalah orang lain

Bijaksana

Memberikan kritik secara halus. konstruktif dan hormat

Memberikan pujian

Menghargai orang lain dan kontribusi mereka di depan umum

Konsisten

Mengendalikan suasan riang; memperlakukan sama bagi semuanya: tidak favorit

Mengakui kesalahan

Kemauan untuk mengakui kesalahan

Memiliki rasa humor

Mempertahankan posisi yang menyenangkan dan pendekatan yang enak

Memberi contoh yang baik

Melakukan apa yang diharapkan orang lain

Menggunakan bahasa Jelas, Lugas, dan Tepat

Kata-kata yang lazim, konkret, pemberian petunjuk, yang menyentuh perasaan penyimak. Hindari kata-kata bercita rasa buruk, kata-kata langsung

 

Ketika berkomunikasi, kita pasti memiliki persepsi tertentu pada pendengar begitu pula sebaliknya. Kekeliruan yang sering terjadi dalam berkomunikasi adalah ketika seseorang menyampaikan informasi dengan ukurannya sendiri. Ini harus dihindarkan karena komunikasi senantiasa melibatkan orang lain. Ahli komunikasi berpesan jika akan berhasil, maka rumusan kunci yang harus dipegang  adalah “Know your audience!” – ketahuilah siapa yang Anda ajak bicara.

 

“Seorang komunikator yang dialogis harus mencoba mengenali dan memperkecil kecenderungannya terhadap manipulasi, keegoisan, dan obyektivasi orang lain”.

Johannessen, R.L., Ethics in Human Communications, 1983

 

Meningkatkan efektif menyimak :

·        Memberikan perhatian

·        Memahami komunikasi verbal dan non verbal

·        Meningkatkan kemampuan dalam memahami symbol verbal dan non verbal dengan menambah referensi  pemahaman

·        Menyimak untuk menganalisa dan mengevaluasi

·        Meningkatkan keahlian menyimak antarpersonal

 

Hambatan-hambatan komunikasi yang sering terjadi adalah:

 

Jenis Hambatan

Deskripsi

Fisik

Hal menyangkut ruang fisik, lingkungan

Biologis

Hambatan karena ketidaksempurnaan  anggota tubuh

Intelektual

Hambatan yang berhubungan dengan kemampuan pengetahuan

Psikis

Hambatan yang menyangkut faktor kejiwaan, emosional, tidak saling percaya, penilaian menghakimi

Kultural

Hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya, bahasa,

 

 

Sebetulnya, kesulitan berkomunikasi yang paling besar berada dalam diri kita sendiri. Kurang yakin, kurang percaya diri, memandang orang lain kurang, lebih mendominasi, apalagi tinggi hati adalah sesuatu yang harus di swicth dan melatih kebalikannya.

 

“Anda akan mampu menyusun pikiran anda dengan lebih mudah dan lebih efektif jika Anda mengingat-ngingat struktur pembicaraan : Apa yang akan dibicarakan, isi pembicaraan dan Apa yang telah anda bicarakan”.

Larry King, Seni Berbicara, 2003

 

 

Ternyata berkomunikasi tidak semudah yang kita bayangkan, upaya terus-menerus harus dilakukan untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan. Itupun tidak cukup, ketrampilan tersebut perlu di asah terus dan senantiasa mengetahui perkembangan dan wacana mereka. Selamat berkomunikasi, semoga lebih komunikatif!  (dstanti)


© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.